Anjing Membutuhkan Hati dan Kasih Sayang

Anjing Membutuhkan Hati dan Kasih Sayang

Oleh Alberthiene Endah

Mereka butuh makanan. Mereka butuh naungan.

Tapi terlebih lagi, mereka butuh perhatian kita.

 

Satu hal yang menggembirakan saya setiap kali mendengar cerita doglovers dengan anjing-anjing mereka adalah interaksi fisik dan batin. Kedekatan. Komunikasi. Kemesraan.

“Setiap pagi saya selalu mengajak anjing saya berjalan-jalan di seputar kompleks. Cukup lima belas menit saja tapi itu sudah membuatnya sangat riang. Kami biasanya akan duduk bersama selama 15 menit lagi. Saya menemaninya sarapan dan minum serta bercengkrama sebentar. Itu sudah cukup membuat saya lega saat meninggalkannya untuk bekerja…” Ujar Susan, pemilik Aldo, seekor anjing husky.

Komentar senada datang dari Silvi, pemilik 2 ekor anjing Pomeranian. “Saya berangkat kerja pukul tujuh pagi dan baru tiba di rumah pukul tujuh malam. Selalu saya berjuang menyisihkan 15 menit di pagi hari untuk bermain dengan mereka di taman belakang. Malam hari mereka bisa berlama-lama dengan saya di kamar,” ujarnya. “Mereka tetap memiliki hati saya”.

Atau, ini komentar sempurna, “Oh, anjing-anjing di rumah bisa dibilang memiliki 24 jam waktu saya dalam sehari jika saya tidak ke mana-mana. Kebetulan saya bekerja dari rumah. Carol dan Clift selalu berada di dekat saya. Jadwal main pun selalu teratur pagi dan sore. Sambil menyapu saya bisa mengawasi mereka berlarian dengan bola!” Cetus Alma, pemilik anjing.

Yang menyedihkan komentar ini, “Aduh, ribet kalau harus ngurus mereka jalan-jalan atau main. Yang penting si mbok di rumah dan tukang kebun untuk mengajak si Boni jalan tiap hari,” tutur Erika menyebut nama anjing beagle-nya.

Memiliki anjing adalah sebuah keputusan hati. Ada konsekuensi batin. Ya, tentu saja ini berlaku jika kita memang mengakui diri kita sebagai pecinta binatang. Kenapa konsekuensi batin? Dalam konteks pemeliharaannya sebagai obyek kasih sayang, anjing membutuhkan bukti kasih yang konkrit. Yakni, sentuhan.

Fenomena menyedihkan dalam pemeliharaan anjing, orang menempatkan mereka sebagai sesuatu yang “tak hidup”. Penjaga rumah yang kebetulan memiliki napas dan nyawa. “Benda lucu” yang kebetulan bergerak. Atau, yang lebih sedih lagi “onggokan” yang hidup. Banyak anjing terjebak dalam rumah-rumah yang tak memberikan hati pada mereka. Anjing-anjing itu harus menelan realitas dimiliki hanya dalam arti diberi tempat dan makan. Itu pun sering tak layak. Itu sebabnya kita sering melihat anjing-anjing yang terikat rantai terus menerus dengan mangkuk minum dan makan yang sangat kotor dan dikerubungi lalat. Atau anjing-anjing yang tersekap dalam kandang tanpa pernah diberi kesempatan bergerak.

Memiliki anjing, bagi saya dan kebanyakan doglovers, adalah koridor untuk menemukan dan membagi cinta. Ketika kami memutuskan memelihara seekor anjing maka seluruh batin dan fisik telah siap untuk terlibat di dalam interaksi kasih yang aktif dengannya. Ia telah menjadi bagian dari keluarga. Ia merupakan penghuni rumah yang bernyawa, memiliki hati, mampu memberikan cinta, dan tentu mengharapkan cinta pula. Jika konsep ini tak terjadi, untuk apa memelihara anjing? Anjing adalah hewan yang ditakdirkan untuk hidup berdampingan dengan manusia dan hidup banyak bergantung dari sikap manusia. Ketika seekor anjing telah kita ambil dan tinggal di rumah kita maka segenap hidupnya sangat bergantung pada kita. Bagi kita mungkin ia adalah sebagian dari hidup. Tapi bagi anjing, kita adalah seluruh hidupnya.

Interaksi kasih antara kita dan anjing akan melahirkan satu atmosfer yang indah di dalam rumah, dan terlebih-lebih lagi di dalam hidup kita. Banyak kisah menakjubkan dari interaksi kasih antara manusia dan anjingnya. Seorang pasien kanker yang mengalami kebangkitan batin dan bersemangat untuk sembuh ketika ia ditemani seekor anjing yang sangat lucu dan pintar. Seorang Lansia yang tak pernah melihat hidup sebagai sesuatu yang membosankan karena dua ekor anjing di rumahnya betul-betul memberi kehangatan. Atau keluarga yang tak pernah dialiri perasaan dingin karena anjing-anjing lucu yang selalu mampu memantik bahagia. Ketika anjing diberikan cinta maka mereka akan menjadi sumber cinta yang tak pernah kering.

Makan, naungan, merupakan bukti kasih yang mendasar bagi anjing. Akan tetapi ia juga memiliki harapan untuk diberi perhatian. Sentuhan kasih itu bisa diberikan dalam berbagai bentuk, sesuai dengan kondisi hidup kita. Mengajaknya bermain, membiarkannya berada di dekat kita, rutin membawanya berjalan agar keempat kakinya bergerak menyehatkan, memandikannya dengan teratur, menatapnya dengan lekat, atau memeluknya. Makanan dan naungan yang kita berikan tak akan pernah terasa sebagai cinta ketika anjing hanya diikat terus menerus sepanjang hidupnya dan–bahkan–tak pernah disapa.

Banyak anjing-anjing luar biasa yang sebetulnya mampu memberikan kasih yang indah tak bisa menunjukkan itu karena mereka terabaikan dan diabaikan. Mereka akan menghitung dan menatap hari yang tak pernah berubah, kecuali melihat diri mereka yang semakin tua.

Mari sentuh anjing-anjing kita dengan hati......